ILMU
BUDAYA DASAR
MAKALAH
NAMA : Untung Nugroho
NPM
:
1A114947
KELAS : 1 KA 39
KATA PENGANTAR
Bismillaahir
Rohmannir Rohiim
Puji dan syukur hanya ditujukan
kehadirat Allah Swt. Atas rahmat-Nya serf diktat kuliah MKDU Emu Budaya Dasar
ini dapat terselesaikan. Buku ini mempakan salah satu dari serangkaian seri
diktat yang diterbitkan oleh penerbit Gunadarma.
Buku seri diktat kuliah Mata kuliah
Dasar Umum Ilmu Budaya Dasar ini disusun dan dipersiapkan sebagai buku petunjuk
dan pegangan mahasiswa agar memperoleh gambaran tentang masalah manusia dan
budaya dalam masyarakat Indonesia.
Pembentukan dan pengembangan serta
wawasan perhatian pengetahuan dan pemikiran mengenai gejala yang ada dan timbul
dalam masyarakat Indonesia, khususnya masalah manusia dan budaya dalam
masyarakat Indonesia agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran berkenaan
dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dapat dipertajam, mempakan
deskripsi sajian Ilmu Budaya Dasar.
Ilmu Budaya Dasar tidak lain mempakan
pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian
umum tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah manusia dan
kebudayaan.
Bekasi, juni 2015
Widyo
Nugroho
Achmad Muchji
DAFTAR ISI
BAB I. TINJAUAN TENTANG ILMU BUDAYA
DASAR
A.
PENDAHULUAN ...................................................................................................
B.
IBD SEBAGAI BAGIAN DARI MKDU ................................................................
C.
PENGERTIAN IBD ...................................................................................................
D.
TUJUAN IBD ...................................................................................................
E.
RUANG LINGKUP IBD ........................................................................................
BAB II. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
A.
MANUSIA ...............................................................................................................
B.
HAKEKAT MANUSIA .......................................................................................
C.
KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR ................................................................
D.
PENGERTIAN KEBUDAYAAN ............................................................................
E.
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN ............................................................................
F.
WUJUD KEBUDAYAAN .......................................................................................
G.
ORIENTASI NILAI BUDAYA ............................................................................
H.
PERUBAHAN KEBUDAYAAN ...........................................................................
I.
KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN ....................................................
BAB III. KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR
DALAM KESUSASTRAAN
A.
PENDEKATAN KESUSASTRAAN ................................................................
B.
IBD YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA .........................................
C.
NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI .................................................................
D.
IBD YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI .....................................................
BAB IV. MANUSIA DAN CINTA KASIH
A.
PENGERTIAN CINTA KASIH ...........................................................................
B.
CINTA MENURUT AJARAN AGAMA ..............................................................
C.
KASIH SAYANG ..................................................................................................
D.
KEMESRAAN .................................................................................................
E.
PEMUJAAN ..............................................................................................................
F.
BELAS KASIHAN ..................................................................................................
G.
CINTA KASIH EROTIS ......................................................................................
DAFTAR KEPUSTAKAAN .....................................................................................
BAB I. TINJAUAN TENTANG ILMU BUDAYA
DASAR
A.
PENDAHULUAN
Mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang
nilai-nilai, tentang kebudayaan, tentang berbagai macam masalah yang dihadapi
manusia dalam hidupnya sehari-hari. Hal ini perlu, karena dirasakan kekurangan
pada sistem pendidikan kita, baik pada tingkat menengah, maupun pada tingkat
perguruan tinggi. Tanpa memungkiri banyak faktor-faktor lain yang
menyebabkannya, salah satu yang penting adalah sistem pendidikan kita. Tidaklah
dapat disangkal, bahwa ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong
membuat manusia-manusia spesialis yang tidak berpandangan luas. Para lulusan
perguruan tinggi kita kurang mempunyai tempat yang sama untuk berpijak. Mereka
relatif terlalu mengesampingkan bidang-bidang yang lain. Ini tidak berarti,
bahwa mereka hams ikut campur bidang-bidang lain, tetapi agaknya keadaan ini
yang membuat mereka seakan-akan buta akan bidang lain.
Disinilah diharapkan kegunaan mata
kuliah ini, agar lulusan perguruan tinggi kita dari semua jurusan dapat
mempuhyai suatu kesamaan bahan pembicaraan.
Diharapkan agar mata kuliah ini
dapat menjadi semacam “lingua franca” bagi para akademisi dari berbagai
lapangan ilmiah.
Dengan mendapat mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar mahasiswa diharapkan nantinya memiliki latar belakang pengetahuan
yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia pada umunya dan menimbulkan minat
mendalaminya lebih lanjut, agar dengan demikian mahasiswa diharapkan tumt
mendukung dan mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan kreatif. Salah satu
sifat penting mata kuliah ini ialah bahwa ini bukan pelajaran sastra, bukan
musik, bukan filsafat, bukan sesuatu disiplin yang berdiri sendiri. Sesuai
dengan namanya Dmu Budaya Dasar - Kuliah ini hanya memberikan dasar - dasar
yang cukup kuat kepada mahasiswa untuk mencari hubungan antara segala segi
kebudayaan dal am hubungan usaha yang terus menerus mencari kebenaran,
keindahan, kebebasan, dalam berbagai bentuk, serta hubungannya dengan alam
semesta, Tuhannya, masyarakatnya dan juga penemuan dirinya sendiri, pendeknya
dalam mencari hidup yang dirasanya lebih bermakna. Jadi secara singkat dapatlah
dikatakan bahwa setelah mendapat mata kuliah ini mahasiswa diharapkan
memperlihatkan :
Minat dan kebiasaan menyelidiki
apa-apa yang terjadi disekitamya dan di luar lingkungannya, menelaah apa yang
dikerjakannya sendiri dan mengapa
Kesadaran akan pola-pola nilai yang
dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidupnya
sehari-hari.
Kerelaan memikirkan kembali dengan
hati terbuka nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah dia secara
berdiri sendiri dapat membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri.
Keberanian moral untuk
mempertahankan nilai-nilai yang dirasanya sudah dapat diterimanya dengan penuh
tanggung jawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.
Latar belakang diberikannya mata
kuliah IBD, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program
pendidikan di Perguruan Tinggi, dalam rangka menyempumakan pembentukan
sarjana..
Latar belakang IBD dalam konteks
budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai
berikut :
1.
Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri
atas berbagai suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yang tercermin
dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari
ikatan-ikatan primordial, kesukuan, dan kedaerahan.
2.
Proses pembangunan yang sedang
berlangsung dan tcmsmenerus menimbulkan dampak positif dan negatif bempa
teijadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan
sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya.
3.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan
tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang
telah diciptakannya.
B.
ILMU BUDAYA DASAR SEBAGAI BAGIAN DARI
MATA KULIAH DASAR UMUM
Ilmu budaya
dasar mempakan salah satu komponen dari sejumlah mata kuliah dasar umum (MKDU)
yang mempakan mata kuliah wajib di semua perguman tinggi, baik yang sifatnya
eksakta maupun yang non eksakta.
Secara khusus MKDU bertujuan untuk
menghasilkan warga negara sarjana yang beikualifikasi sebagi berikut :
1.
Berjiwa Pancasila sehingga segala
keputusan serta tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai pancasila dan
memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan
nasional dan kemanusiaan sebagai saijana Indonesia.
2.
Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya.
3.
Memiliki wawasan komprehensif dan
pendekatan integral di dalam menyikapi permasalahan kehidupan baik sosial,
ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
4.
Memiliki wawasan budaya yang luas
tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan serta
meningkatkan kualitasnya, mau berperan di dalam pelestarian nya.
Pada dasarnya
mata kuliah ini berbeda dengan mata kuliah bantu yang lain yang bertujuan untuk
menopang keahlian mahasiswa dalam disiplin ilmunya, dan berbeda pula dengan
pendidikan keahlian yang bertjuan untuk mengembangkan keahlian mahasiswa dalam
bidangnya.
C.
PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR
Secara sedertiana Ilmu Budaya Dasar
adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan
pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji
masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Istilah Dmu Budaya Dasar
dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanitiesm yang
berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities”. Adapun istilah Humanities
itu sendiri berasal dari bahasa latin humanus yang bisa diartikan manusia,
berbudaya dan halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang
akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan
demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai yaitu
nilai-nilai manusia sebagai homo humanus alau manusia berbudaya. Agar supaya
manusia bisa menjadi humanus, mereka hams mempelajari ilmu yaitu the humanities
disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu
sendiri.
Untuk mengetahui bahwa Dmu Budaya
Dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya, lebih dahulu perlu diketahui
pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof.Dr.Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu
dan pengetahuan dikelompokkan dal am tiga kelompok besar, yaitu :
Dmu-ilmu Alamiah ( natural science
)
Hmu-ilmu alamiah bertujuan
mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dal am alam semesta. Untuk
mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum
yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk
menentukan suatu kualitas. Hasil analisis itu kemudian digeneralisasikan. Atas
dasar ini lalu dibuat prediksi . Hasil penelitiannya 100 % benar dan 100 %
salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi,
fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.
Ilmu-ilmu Sosial ( social science )
Dmu-ilmu sosial bertujuan untuk
mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dal am hubungan antar manusia.
Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu
alamiah. Tetapi hasil penelitiannya tidak mungkin 100 % benar, hanya mendekati
kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak
dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara
lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi
sosial, sosiologi hukum, dsb.
Pengetahuan budaya ( the humanities
)
Pengetahuan budaya bertujuan untuk
memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk
mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan
pemyataan-pemyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Pcristiwa-pcristiwa dan pemyatan-pcmyataan itu pada umumnya terdapat dalam
tulisan-tulisan., Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah,
hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.
Pengetahuan budaya ( The Humanities
) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin) seni dan
filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang
kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dD. Sedang Dmu Budaya
Dasar ( Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan
untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain
Ilmu Budaya. dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai
bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan
dal am mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Dmu budaya dasar berbeda dengan
pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut dengan Basic
Humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the
humanities, pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai
mahluk berbudaya ( homo humanus ), sedangkan Ilmu budaya dasar bukan ilmu
tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum
tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia
dan budaya.
D.
TUJUAN ILMU BUDAYA DASAR
Penyajian mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar tidak lain mempakan usaha yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Untuk bisa menjangkau tujuan
tersebut Ilmu Budaya Dasar diharapkan dapat :
1.
Mengusahakan penajaman kepekaan
mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2.
Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk
memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta
mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut
kedua hal tersebut.
3.
Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai
calon pemimpin bangsa dan negara serta ahli dalam bidang disiplin
masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan
disiplin yang ketat.
4.
Mengusahakan wahana komunikasi para
akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain.
Dengan
demikian jelaslah bahwa mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tidak dimaksudkan untuk
mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam
pengetahuan budaya (the humanities).
E. RUANG
LINGKUP ILMU BUDAYA DASAR
Bertitik tolak
dari kerangka tujuan yang telah ditentukan diatas, dua masalah pokok bisa
dipakai sebagi bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar. Kedua masalah pokok itu ialah :
1.
Berbagai aspek kehidupan yang selumhnya
merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan
menggunakan pengetahuan budaya ( The Humanities ), baik dari segi masing-masing
keahlian ( disiplin ) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar
bidang) beibagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
2.
Hakekat manusia yang satu atau
universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan
masing-masing jaman dan tempat. Dalam melihat dan menghadapi lingkungan alam,
sosial dan budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaan, akan
tetapi juga ketidak seragaman yang diungkapkan secara tidak seragam,
sebagaimana yang teriihat ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan,
pikiran, dan perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuan mereka.
Memiliki kedua masalah pokok yang
bisa dikaji dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tersebut di atas, nampak dengan
jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak
sebagi subyek akan tetapi sebagai obyek pengkajian . Bagaimana hubungan manusia
dengan alam, dengan sesama manusia, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan
bagaimana pula hubungan manusia dengan Tuhan menjadi tema sentral dalam Ilmu
Budaya Dasar.
Pokok bahasan yang akan
dikembangkan adalah :
-
Manusia dan cinta kasih
-
Manusia dan keindahan
-
Manusia dan penderitaan
-
Manusia dan keadilan
-
Manusia dan pandangan hidup
-
Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
-
Manusia dan kegelisahan
-
Manusia dan harapan.
Kedelapan pokok
bahasan itu termasuk dalam karya-karya yang terccakup dalam pengetahuan budaya.
Perwujudan mengenai cinta, misalnya, terdapat dalam karya sastra, tarian,
musik, filsafat, lukisan, patung dan sebagainya.
Suatu karya
mungkin saja mengungkapkan lebih dari satu masalah. Karena itu satu karya mungkin
saja dipergunakan untuk lebih dari satu pokok bahasan. Sebuah cerita pendek
misalnya, dapat saja mengungkapkan masalah penderitaan, keadilan, dan pandangan
hidup sekaligus.
Ilmu budaya
dasar bukan ilmu sastra, ilmu tari, ilmu filsafat dan lain ilmu yang terdapat
dalam pengetahuan budaya. Ilmu Budaya Dasar hanya mempergunakan karya-karya
yang terdapat dalam pengetahuan budaya untuk mendekati masalah-masalah
kemanusiaan dan budaya.
BAB II. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia dan
kebudayaan mempakan dua hal yang sangat erat terikait satu sama lain. Dalam
pembahasan awal mengenai mata kuliah IBD kita sudah bicarakan bahwa kedua hal
tersebut mempakan dasar bagi pembahasan materi-materi selanjutnya.
A.
MANUSIA
Manusia di alam
dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi.
Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel
atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu
kimia), manusia mempakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling
terkait satu sama lain dan mempakan kumpulan dari energi (ilmu Fisika), manusia
mempakan mahluk biologis yang yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia
(biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia mempakan mahluk yang ingin
memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering
disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia mempakan mahluk sosial yang
tidak dapat beidiri sendiri (sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai
kekuasaan (politik), mahluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus
(filsafat), dan lain sebagainya.
Dari definisi-definisi tersebut
diatas kita dapat melihat bahwa manusia selain dapat dipandang dari banyak
segi, juga mempunyai banyak kepcntingan. kita akan mencoba menerangkan siapa
manusia itu dari unsur-unsur yang membangun manusia.
Ada dua pandangan yang akan kita
jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia
1.
Manusia itu teidiri dari empat unsur
yang saling terkait, yaitu
-
Jasad, yaitu : badan kasar manusia yang
nampat pada luamya, dapat diraba dan difoto, dan menempati ruang dan waktu
-
hayat, yaitu : mengandung unsur hidup,
yang ditandai dengan gerak
-
ruh, yaitu : bimbingan dan pimpinan
Tuhan, daya yang bekeija secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu
kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahimya
kebudayaan
-
nafs, dalam pengertian diri atau
keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri
2.
Manusia sebagai satu kepribadian
mengandung tiga unsur yaitu :
-
Id, yang merupakan struktur kepribadian
yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan libido mumi, atau
energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan teikait dengan
sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran
(unconcious). Id tidak beihubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi teikait
dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara
insting Id dengan dunia luar.
-
Ego, merupakan bagian atau struktur
kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai
kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke
dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain. Peikembangan ego
teijadi antara usia satu dan dua tahun, pada saat anak secara nyata berhubungan
dengan lingkungannya. Ego diatur oleh prinsip realitas, Ego sadar akan tuntunan
lingkungan luar, dan mengatur tingkah laku sehingga dorongan instingtual Id
dapat dipuaskan dengan cara yang dapat diterima.
-
Superego, merupakan struktur kepribadian
yang paling akhir, muncul kita-kira pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan
Id dan ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego
terbentuk dari lingkungan ekstemal. Jadi superego merupakan kesatuan
standar-standar moral yang diterima oleh ego dan sejumlah agen yang mempunyai
otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari
pandangan-pandangan orang tua. Baik aspek negatif maupun positif dari standar
moral tingkah laku ini diwakilkan atau ditunjukkan oleh superego.
Dari uraian di
atas dapat mengkaji aspek tindakan manusia dengan analisa hubungan antara
tindakan dan usur-unsur manusia. Kesemua unsur tersebut dapat digunakan sebagai
alat analisa bagi tingkah laku manusia.
B.
HAKEKAT MANUSIA
1. Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri
dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh
adalah materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak
abadi. Jika manusia itu meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat
didalam tubuh, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi
abadi. jika manusia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya
yaitu Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran.
2. Mahluk ciptaan Tuhan yang paling
sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Kesempurnaannya
terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh penciptanya
dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan
akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Daya
rasa (perasaan) dalam diri manusia itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi
dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui
pancaindra, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang. Perasaan
rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
-
Perasaan intelektual, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan pengetahuan.
-
Perasaan
estetis,yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan.
-
Perasaan
etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan.
-
Perasaan diri, yaitu perasaan yang
berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain.
-
Perasaan sosial, yaitu perasaan yang
berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan
kehidupan orang lain.
-
Perasaan
religius, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan.
Adanya kehendak
dari setiap manusia mampu menciptakan perilaku tentang kebaikan menurut moral.
3. Mahluk biokultural, yaitu mahluk
hayati yang budayawi
Manusia adalah
produk dari saling tindak atau interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi.
Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi,
fisiologi atau faal, biokimia, psikobiologi, patologi, genetika, biodemografi,
evolusi biologisnya, dan sebagainya.
4. Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat
dengan lingkungan (ekologi), mempunyai 'kualitas dan martabat karena kemampuan
bekerja dan berkarya
Soren
Kienkegaard seorang filsuf Denmark pelopor ajaran “eksistensialisme” memandang
manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamiah yang terikat
dengan lingkungannya (ekologi), memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada
hukum alamiah pula.
Hidup manusia
mempunyai tiga taraf, yaitu estetis, etis dan religius.
Dengan etis,
manusia meningkatkan kehidupan estetis ke dalam tingkatan manusiawi dalam
bentuk-bentuk keputusan bebas dan dipertanggung jawabkan. Dengan kehidupan
religius, manusia menghayati pertemuannya dengan tuhan, semakin dekat seseorang
dengan Tuhan, semakin dekat pula dia menuju kesempumaan dan semakin jauh ia
dilepaskan dari rasa kekhawatiran. Semakin mendalam penghayatan terhadap Tuhan
semakin bermakna pula kehidupannya, dan akan temngkap pula kenyataan manusia
individual atau kenyataan manusia subyektif yang memiliki harkat dan martabat
tinggi.
C.
KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR
Menurut Francis
L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dirinya
keahlian di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu Hlsafat dan
kesusastraan cina klasik. Karya tulisnya beijudul Psychological Homeostatis
Cina Klasik. Majalah American Anthropologist, jilid 73 tahun 1971, halaman
23-24. Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat,
dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisis
jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu
sebagai kesatuan analisis tersendiri. Sampai sekarang, ilmu psikologi di
negara-negara Barat itu terutama mengembangkan konsep-konsep dan teori-teori
mengenai aneka wama isi jiwa, serta metode-metode dan alat-alat untuk
menganalisis dan mengukur secara detail variasi isi jiwa individu itu.
Sebaliknya, ilmu itu masih kurang mengembangkan konsep-konsep yang dapat
menganalisis jaringan berkait antara jiwa individu dan lingkungan sosial
budayanya.
Untuk
menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subyek yang terkandung
dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu
Konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung
delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar
diri pribadi. Maka sebab itu tokoh di atas berhasil menganalsis kepribadian
bangsa timur ataupun bangsa lain nya dengan konsep seperti yang di jelaskan
tsb.
D.
PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Pengertian
kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan,
seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Sedangkan
menurut definisi Koentjaraningrat yang
mengatakan bahwa pengertian kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan
dan hasil yang harus didapatkannya dengan belajar dan semua itu tersusun dalam
kehidupan masyarakat. Senada dengan Koentjaraningrat, didefinisikan oleh Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi, pada bukunya
Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta :Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 1964), hal 113, merumuskan kebudayaan sebagai semua
hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan
teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture)
yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan
serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
Pengertian Kebudayaan
dalam bahasa inggris disebut culture. merupakan suatu istilah yang
relatif baru karena istilah culture sendiri dalam bahasa inggris baru muncul
pada pertengahan abad ke-19. Sebelumnya pada tahun 1843 para ahli antropologi
memberi arti kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam,
sebagaimana tercermin dalam
istilah agriculture dan holticulture. Hal ini bisa kita mengerti
karena istilah culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti
pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Pada arti kiasan kata itu juga
berarti "pembentukan dan pemurnian jiwa". Seorang antropolog
lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture
(New York ; Brentano's, 1924), hal 1, yang mendefinisikan pengertian kebudayaan
bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta
kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat
Beberapa orang sarjana yang merumuskan atau menyatakan tentang
kebudayaan dengan pendapat nya masing-masing seperti :
-
Bronislaw Malinowski
Bronislaw
Malinowski menyatakan bahwa ada empat unsur pokok kebudayaan yang meliputi
sebagai berikut...
1.
Sistem norma-norma yang memungkinkan
kerja sama antaranggota masyarakat agar menyesuaikan dengan alam sekelilingnya.
2.
Organisasi ekonomi
3.
Alat dan lembaga atau petugas untuk
pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama).
4.
Organisasi kekuatan (politik)
-
C. Kliucckhohn
Kliucckhohn
menyebutkan ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu :
1. sistem
mata pencaharian hidup: sistem peralatan dan teknologi
2. sistem
organisasi kemasyarakatan
3. sistem
pengetahuan
4. bahasa
5. kesenian
6. sistem
religi
7. upacara
keagamaan
-
Herskovits
Herskovits memandang bahwa
kebudayaan merupakan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain yang kemudian disebut sebagai superorganik.
-
Edward Burnett Tylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan
dari yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Sifat hakikat kebudayaan adalah
ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yang masing-masing masyarakat yang
berbeda. Pada masyarakat Barat makan sambil berjalan, bahkan setengah berlari
adalah hal yang biasa karena bagi mereka the time is money. Hal ini jelas
berbeda dengan masyarakat timur. Jangankan makan sambil berjalan, bahkan makan
berdiri saja sudah melanggar etika. Walaupun demikian, secara garis besar, seluruh
kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki sifat-sifat hakikat yang sama.
Proses akulturasi kebudayaan dalam
sejarah umat manusia telah terjadi pada umat atau bangsa-bangsa terdahulu.
Dimana Adakalanya kebudayaan yang dibawa dapat dengan mudah diterima oleh
masyarakat setempat dan adakalanya ditolak, parahnya ada juga sekelompok
individu yang tetap tidak menerima kebudayaan asing walaupun mayoritas kelompok
individu di sekelilingnya sudah menjadikan kebudayaan tersebut bagian dari
kebudayaannya.
E. UNSUR-UNSUR KEUDAYAAN
Untuk lebih
mendalami kebudayaan, perlu dikenal beberapa masalah lain yang menyangkut
kebudayaan. Misalnya apa yang disebut dengan unsur. Yang dimaksud dengan unsur
disini adalah apa saja sesungguhnya kebudayaan itu, sehingga kebudayaan disini
lebih mengandung makna totalitas dari pada sekedar penjumlahan unsur-unsur yang
terdapat di dalamnya.
Kebudayaan
setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur
kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai
kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar
seperti umpanya Majelis Permusyawaratan Rakyat disamping unsur-unsur kecil
seperti sisir, kancing, baju, peniti dan lain-lainnya yang dijual di pinggir
jalan.
Masalah lain
yang juga penting tentang kebudayaan adalah wujudnya. Pendapat umum mengatakan,
bahwa kebudayaan dapat dibedakan dalam dua bentuk wujudnya. Pertama, kebudayaan
bendaniah (material) dengan ciri dapat dirasa saja. Kedua, kebudayaan rohaniah
(spiritual) dengan ciri dapat dirasa saja
F.
WUJUD KEBUDAYAAN
Menumt dimensi wujudnya, kebudayaan
mempunyai tiga wujud yaitu
1.
Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran
manusia :
Wujud ini
disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada
kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam
pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup. Kalau warga
masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka lokasi dari
kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para
penulis warga masyarakat yang bersangkutan.
2.
Kompleks aktivitas :
Berupa aktivitas
manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau
diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri
dariaktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta
bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari
tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata
kelakuan.
G.
ORIENTASI NILAI BUDAYA
Kebudayaan
sebagai kaiya manusia memiliki sistem nilai. Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya
Variations in Value Orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua
kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan
manusi, yaitu :
1.
Hakekat hidup manusia (MH)
2.
Hakekat karya manusia (MK)
3.
Hakekat waktu manusia (WM)
4.
Hakekat alam manusia (MA)
5.
Hakekat hubungan manusia (MN)
H.
PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Masyarakat dan
kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan bembah, sekalipun masyarakat dan
kebudayaan primitif yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat
lainnya.
Tidak ada
kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak
kebudayaan sebenamya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang
menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan
hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena teijadi hubungan
antar kelompok manusia di dalam masyarakat.
Dan terjadi
perubahan gerak ini di sebabkan oleh beberapa hal :
1.
Sebab-sebab yang berasal dari dalam
masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya pembahan jumlah dan komposisi
penduduk.
2.
Sebab-sebab pembahan lingkungan alam dan
fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur
hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk bembah lebih
cepat.
Perubahan ini, selain karena jumlah
penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan,
penemuan-penemuan bam, khususnya teknologi dan inovasi. Perubahan sosial dan
pembahan kebudayaan berbeda. Dalam Perubahan sosial terjadi perubahan struktur
sosial dan pola-pola hubungan sosial, antara lain, sistem politik dan
kekuasaan, persebaran penduduk, sistem status, hubungan-hubungan di dalam
keluarga.
Perubahan sosial adalah segala
pembahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang
mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya niali-nilai, sikap-sikap dan
pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sedangkan
pembahan kebudayaan atau akulturasi teijadi apabila suatu kelompok manusia
dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing
yang bebrbeda sedemikian mpa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan
lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan
hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
I. KAITAN
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Dalam sosiologi
manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun
keduanya berbeda tetapi keduanya mempakan satu kesatuan. Manusia mcnciptakan
kebudayaan, dan sclclah kebudayaan itu tcrcipta maka kebudayaan mengatur hidup
manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhimya mempakan satu
keSaluan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia
dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu
dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya
hams patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena
kebudayaan itu mempakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup
dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang
membuarnya.
BAB III. KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM
KESUSASTRAAN
A. PENEKATAN
KESUSASTRAAN
IBD, yang semula
dinamakan Basic Humanities, berasal dan bahasa Inggris the humanities. Istilah
ini berasal dari bahasa latin Humanus, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan
halus. Dengan mempelajari the humanities orang akan menjadi lebih manusiawi,
lebih berbudaya dan lebih halus..
Untuk menjadi
homo humanus, manusia hams mempelajari ilmu, yaitu the humanities, disamping
tanggung jawabnya yang lain. Apa yang dimasukkan kedalam the humanities masih
dapat diperdebatkan, dan kadang-kadang disesuaikan dengan keadaan dan waktu.
Pada umumnya the humanities mencakup filsafat, teologi, seni dan
cabang-cabangnya termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, dan sebaginya. Pada
pokoknya semua mempelajari masalah manusia dan budaya.
B.
IBD YANG DI HUBUNGKAN DENGAN PROSA
Istilah prosa
banyak padanannya. Kadang-kadang disebut narrative fiction, prose fiction atau
hanya fiction saja. Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diteijemahkan
menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa
kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh
daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman,
atau novel, atau cerita pendek.
C.
NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI
Sebagai seni
yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi)
langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita. Dengan
peikataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra.
Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :
1.
Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang
diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca menriapatkan pengalaman sebagaimana
mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan.
2.
Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi
yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi.
3.
Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli
imaginasi, dan mempakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari
warisan budaya bangsa.
4.
Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat
menilai kehidupan berdasarkan pengalaman- pengalaman dengan banyak individu.
Contoh
dari keempat prosa tersebut bisa di gambarkan memalui media apapun seperti
novel atau hal lain nya.
D.
IBD YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI
Pembahasan puisi
dalam rangka pengajaran Ilmu Budaya Dasar tidak akan diarahkan pada tradisi
pendidikan dan pengajaran sastra dan apresiasinya yang mumi. Puisi dipakai sebagai
media sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema atau pokok
bahasan yang terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.
Puisi termasuk
seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang/ unsur
dari kebudayaan. Kalau diberi batasan, maka puisi adalah ekspresi pengalaman
jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa
yang artistik/ estetik, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Adapun alasan-alasan yang mendasari
penyajian puisi pada perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagai berikut :
-
Hubungan puisi dengan pengalaman hidup
manusia.
Perekaman dan
penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut “pengalaman perwakilan”. Ini
berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan dasamya
untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman
langsung yang terbatas.Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat
memberikan kepada para mahasiswa memiliki kesadaran (insight-wawasan) yang
penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sndiri dan
tentang masyarakat.
Pendekatan
terhadap pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan suatu kemampuan yang
disebut “imaginative entry”, yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri
dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.
-
Puisi dan keinsyafan/kesadaran
individual.
Dengan membaca
puisi mahasiswa dapat diajak untuk dapat menjenguk hati/pikiran manusia, baik
orang lain maupun diri sendiri, karena melalui puisinya sang penyair
menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman
setiap orang.
-
Puisi dan keinsyafan sosial
Puisi juga
memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial,
yang tedibat dalam isue dan problem sosial. Secara imaginatif puisi dapat
menafsiikan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa ;
1.
penderitaan atas ketidak adilan
2.
peijuangan untuk kekuasaan
3.
konflik dengan sesamanya
4.
pemberontakan terhadap hukum Tuhan
BAB IV. MANUSIA DAN CINTA KASIH
A.
PENGERTIAN CINTA KASIH
Menurut kamus
umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadanninta, cinta adalah rasa sangat
suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau
sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau
cinta kepada atau menaruh betas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih
hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karcna itu cinta
kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang
disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta
kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun teidapat perbedaan juga antara
keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih
lebih keluamya; dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah
kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Cinta memegang
peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan
dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak,
hubungan yang era! dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab, Demikian
pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga
marwsia menyembah Tuhan dengan ichlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang
tegub pada syariat-Nya.
Hakekat cinta
menengah adalah suatu energi yang datang dari perasaan had dan jiwa. Ia timbul
dari perasaan seseorang yang dicintainya, aqidah, keluarga, kekerabatan, atau
persahabatan. Karenanya hubungan cinta, kasih sayang dan kesetiaan diantara
mereka, semakin akrab.
B.
CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
Ada yang
berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan
dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya
cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didengungkan lewat lagu dan
organisasi perdamaian dunia, tetapi di pihak lain dalam praktek kehidupan cinta
sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan
ajaran cinta kepada manusia.
Dalam kehidupan
manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang
mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri
dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya. Berbagai bentuk cinta ini bisa
kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
-
Cinta diri
Cinta diri erat
kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup,
mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai
segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada dirinya.
-
Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia
dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya,
tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya.
-
Cinta seksual
Cinta erat
kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan
kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami dan istri.
-
Cinta kebapakan
Mengingat bahwa
antara ayah dengan anak-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis
seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa
modem berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti
halnya dorongan keibuan
-
Cinta kepada Allah
Puncak cinta
manusia, yang paling bening, jemih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah
dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja.
tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan
tindakannya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya:
“Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
tnengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha
penyayang” (QS, Ali Imran, 3:31)
Cinta yang
ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan
pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk
kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang
cinta pada sesama manusia, hewan, semua mahluk Allah dan seluruh alam semesta.
-
Cinta kepada Rasul
Cinta kepada
rasul, yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki
peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal
sempuma bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat
luhur lainnya.
C.
KASIH SAYANG
Pengertian kasih
sayang menurut kamus umum bahasa indonesia karangan W.J.S.Poerwadamiinta adalah
perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Dalam kehidupan
berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini
merupakan pertumbuhan dari cinta.'Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila
diakhiri dengan perkawinan, maka didalam berumah tangga keluarga muda itu bukan
lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling
menumpahkan kasih sayang.
Dalam kasih
sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab,
pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka,
sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur
kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah
tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagiaan
rumah tangga itu. Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau
istri atau anak-anak yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merahpun
telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Bayi yang masih merah
telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan ayah ibunya. Bagaimana sikap
ibunya memegang/menggendong telah dikenalnya. Hal ini karena sang bayi telah
mempunyai kepribadian.
Kasih sayang,
dasar komunikasi dalam suatu keluarga. Komunikasi antara anak dan orang tua.
pada prinsipnya anak terlahir dan terbentuk sebagai hasil curahan kasih sayang
orang tuanya. Pengembangan watak anak dan selanjutnya tak boleh lepas dari
kasih sayang dan perhatian orang tua. Suatu hubungan yang hannonis akan terjadi
bila hal itu teijadi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
D.
KEMESRAAN
Kemesraan
berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab.
Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria wanita yang sedang dimabuk
asmara maupun yang sudah beramah tangga.
Kemesraan pada
dasamya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. Filsuf Rusia, Salovjef
dalam bukunya makna kasih mengatakan “jika seorang pemuda jatuh cinta pada
seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta din. la mulai
hidup untuk orang lain”, tapi kemesraan cinta tidak saja terpatri dalam lubuk
hati masing-masing tetapi juga memancar dari sinar mata keduanya yang bening
dan belaian-belaian mesra jari-jemari mereka yang bergetar.
Tiap manusia
pemah bercinta, hanya saja tidak setiap manusia dapat melahirkan rasa cinta
dalam bentuk seni.
E.
PEMUJAAN
Pemujaan adalah
salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam
bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti,
nilai dan makna kehidupan yang sebenamya. Apa sebab itu teijadi adalah karena
Tuhan mencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqon ayat 59 - 60 yang
menyatakan, “ Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara
keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudia dia bertahta di atas
singgasana-Nya. Dia maha pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang
soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan
kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang maha pengasih “.
Tuhan adalah
pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan
segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya
dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat
Al-Mu’minin ayat 98 dinyatakan, “ Dan aku beiiindung kepada-Mu. Ya Tuhanku,
dari kehadiran-Nya di dekatku. Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa
pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, Karena Tuhan pencipta
semesta termasuk manusia itu sendiri. Danpenciptaan semesta untuk manusia. Kalau
manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh maha pengasih lagi maha
penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk peraujaan atau
sholat. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain menyatakan, “apakah engkau tidak
tahu bahwasanya Allah itu dipuja oleh segala yang ada di bumi dan dilangit...”.
Pemujaan-pemujaan
itu sebenamya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. hal ini
berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya. mohon periindungan, mohon
dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, mohon ditambahkan
segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
F.
BELAS KASIHAN
Dalam surat
Yohanes dijelaskan ada tiga mac am cinta. Cinta agape ialah cinta manusia
kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan
saudara. dan keliga cinta Amor/eros ialah cinta antara pria dan wanita.
Cinta sesama ini
diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua,
pria-wanita, cinta kepada Tuhan. Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah
belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya,
pandainya, melainkan karena penderitaannya. Pcnderitaan ini mengandung arti
yang luas. Mungkin tua, sakit-sakitan, yatim, yatim piatu. penyakit yang
dideritanya, dan sebagainya. Jadi kata kasihan atau rahmah berarti bersimpati
kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Kemudian apa bedanya Rahmah
dengan Rahman ? kalau Rahman ada unsur memberi. Misalnya seseorang memusuhi
kita, tetapi kita tidak membalasnya, malahan kita jadikan dia sebagai teman
baik. Jadi pengertian rahmah adalah kita menaruh perhatian (simpati) terhadap
penderitaan orang lain, lalu kita menunjukkan jalan keluar kepadanya. Tetapi
kalau kita menaruh rasa simpati kepada orang yang tidak dalam kesulitan,
sehingga menyebabkan rusak (menjerumuskan), maka hal itu disebut memanjakan.
Dalam surat
Al-Qolam ayat 4, maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena
belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi
sangat dipujikan oleh Allah SWT. Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan
adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan.
Masalahnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu
tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
G.
CINTA KASIH EROTIS
Cinta kasih
kesaudaraan mcrupakan cinta kasih antar orang-orang yang sama-sama sebanding,
sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang yang lemah
tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut,
kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakekatnya cinta ksih tidak terbatas
kepada seseorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya,
disamping itu bahkan saya saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya.
Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis,
yaitu kehausan akan penyatuan yang sempuma, akan penyatuan dengan seseorang
lainnya. Pada hakekatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif, bukan
universal, dan juga barangkali mempakan bentuk cinta kasih yang paling tidak
dapat dipercaya.
Pertama-tama
cinta kasih erotis kerap kali dicampuibaurkan dengan pengalaman yang eksplosif
berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu
terdapat diantara dua orang yang asing satu sama lain. Tetapi seperti yang
telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba
ini pada hakekatnya hanyalah sementara saja. Bila mana orang asing tadi telah
menjadi seseorang yang diketahui secara intim , tak ada lagi rintangan yang
hams diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan.
Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau
barangkali harus dikatakan “kurang” dipahami seperti dirinya sendiri. Apabila
terdapat perasaan yang tclah mendalani terhadap pribadi yang lain apabila orang
dapat mengalami ketakterhitungan pribadinya sendiri, maka pribadi orang lain
tidak pemah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi
rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk
kebanyakan orang pribadinya, seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami
cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh
dengan cara hubungan seksual. Karena meereka mengalami keterpisahan orang lain
terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan dengan mengadakan penyatuan
fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.
Disamping itu
terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai
cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri
pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya,
menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat
yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi
keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan
memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah
dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi
(busuk). Yang kerap kali terdapat diantara sepasang pengantin yang rupa-rupanya
hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada
di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama
lain. Tetapi semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk
berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan
orang lain, dengan seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi
menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukannya sekali lagi,
untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang
bam itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. ilusi-ilusi ini sangat mudah
diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri sendiri.
Keinginan seksual menuju kepada
penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk
meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimuli,
dirangsang oleh ketakutan karena sepi, oleh keinginan untuk menaklukan atau
untuk ditaklukan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan oleh
keinginan untuk memusnahkan. Semua itu dapat memberikan stimulasi yang sama
beratnya dengan cinta kasih. Rupa-mpanya keinginan seksual dengan mudah dapat
dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalani, sedangkan
cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. oleh karena bagi kebanyakan orang
keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah
terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai dan mengasihi
yang lain, sedangkan yang sebenarya terjadi ialah bahwa mereka saling
menginginkan secara fisis.
1. Mustopo, M. Habib; Manusia dan budaya kumpulan esay;
Usaha Nasional, Surabaya, 1990.
2. MP. Suyadi, Drs; Dmu Budaya Dasar; Modul UT; PT
Karunika, Jakarta, 1990.
3. Muhamad Kadir SH, Ilmu Budaya Dasar; Fajar
AgungJakarta, 1990.
4. Koentjaraningrat; Pengantar Ilmu Antropologi; Rineka
Cipta, Jakarta, 1990.
5. Koentjaraningrat; Kebudayaan mentalitas dan
pembangunan; PT Gramedia, Jakarta, 1990.
5.
Soekanto Soijono;
sosiologi suatu pengantar; Rajawali Pers, Jakarta, 1990.
7.
The Liang Gie;
Garis besar estetika; Penerbit Ikarya, Yogyakarta, 1976.
8.
Konsorsium Antar
Bidang; Ilmu Budaya Dasar, Dept. P&K, 1982
9.
Dr. M. Ustman
Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Pustaka Bandung, 1985.
10.
Drs. M. Thalib,
Petunjuk Islam mengatasi stres dan gangguan mental, Pustaka A1 Kautsar,
Yogyakarta, 1991
11.
Asy’arrie, Musa;
Manusia pembentuk kebudayaan dalam Al-Qur’an; Lembaga studi filsafat Islam,
Yogyakarta, 1992.
12.
Berger, Peret L;
Kabar angin dari langit (terj); LP3ES, Jakarta, 1991.
13.
Brennan, James F;
History and systems of psychology; Prentice Hall International Inc, New Jersey,
1991.
14.
Keesing, Roger M.;
Antropologi Budaya : Suatu perspektif kontenporer (terj), jilid I; Erlangga,
Jakarta, 1989.
15.
Nasih Ulwan,
Abdullah; Man^jemen Cinta; HI Press, 1992