BUDAYA
TANA TORAJA DI SULAWESI SELATAN
Toraja adalah salah satu suku yang
berdiam di daerah pegunungan Latimojong, wilayah Utara dari Propinsi Sulawesi
Selatan. Tepatnya di Kabupaten Tana Toraja, yang kini sebagian wilayahnya
dimekarkan menjadi daerah otonomi baru, yakni Kabupaten Toraja Utara. Suku
Toraja yang bermukim di dua kabupaten yang memiliki hawa dingin ini, dominan
penganut agama Nasrani, setelah jauh sebelumnya adalah pengikut animisme yang
didasarkan pada ajaran dianut nenek moyang mereka ribuan tahun lalu, yang oleh
suku Toraja disebut “aluq tudolo”(kebiasaan, ajaran, paham dan keyakinan
orang-orang terdahulu).
Meskipun saat ini masyarakatnya tidak
lagi menganut keyakinan yang diwariskan dari nenek moyang mereka, tetapi nilai
dan ajaran “aluq tudolo” tetap dipegang teguh dan dilestarikan dalam kehidupan
bermasyarakat. Misal diantaranya, sekalipun masyarakat suku Toraja telah
mengikuti ajaran Nasrani, tetapi tradisi “aluq tudolo” yang mengagungkan
kematian kerabat yang meninggal dunia tetap dipertahankan dan dilestarikan
hingga kini. Itu sebabnya pesta kematian bagi keluarga yang meninggal dunia,
disebut “Rambu solo”, jauh lebih meriah bila dibandingkan pesta pernikahan
sanak keluarga.
Kematian bagi masyakat suku Toraja,
adalah inti dan puncak pencapaian kehidupan paling agung menuju keabadian di “puya” (arasy).
Itulah sebabnya, sebelum menuju ke mahligai nirwana di “puya”, pemakaman
jenazah menjadi momentum paling sakral dalam perjalanan hidup di muka bumi ini.
Suku Toraja memegang teguh pemahaman bahwa “hidup manusia adalah untuk mati”
menuju alam keabadian. Guna mencapai ketenteraman di “puya”, setiap mayat harus
melakukan pembersihan diri sebagai penebus dosa. Untuknya, setiap jenazah yang
akan dikubur, sedapat mungkin diberi bekal sebanyaknya sesuai kemampuan
keluarga.
Bekal dimaksud adalah roh sejumlah hewan
yang dikurbankan pada saat pesta pemakaman “rambu solo” dilaksanakan. Roh
sejumlah hewan yang dikurbankan itu diharapkan mampu mengiring-iringi sang
jenazah menuju “puya”. Semakin banyak jumlah hewan dikurbankan semakin
sempurnalah perjalanan menuju keabadian. Semakin tinggi derajat kasta jenazah,
semakin tinggi pula hewan dikurbankan. Itu sebabnya, pesta kematian suku
Toraja, kadang menghabiskan dana milyaran rupiah. Bagi mereka yang belum mampu,
jenazah kerabatnya di-“mumi” sementara waktu di rumah, hingga saatnya kerabat
mampu mengumpul uang.
Upacara kematian “rambu solo” yang
kadang menghabiskan anggaran Milyaran rupiah --- yang kini bergeser diartikan
derajat dan gengsi keluarga --- berhari-hari berlangsung meriah selama sekian
pekan, siang maupun malam. Pesta selain disertai nyanyian-nyanyian duka“ma’badong”,
do’a-do’a ratapan, juga ditampilkan musik dan ragam tarian tradisional untuk
menghibur kerabat keluarga yang sedang berduka, yang tak habis-habisnya
berdatangan menyampaikan belangsungkawa, baik mereka yang bermukim di Tana
Toraja, maupun yang jauh-jauh datang dari negeri rantau. Entah dari dalam
ataupun dari luar negeri.
Penguburan mayat, pada saatnya akan
dilakukan sesuai kesepakatan keluarga. Mayat yang dimakam, sebagian besar
adalah jenazah yang sekian bulan atau sekian tahun dirawat di rumah, setelah
sebelunya di-“mumi” melalui ramuan tradisional khas Toraja, sehingga fisik
jenazah tetap utuh seperti sediakala semasa hidup. Diselimuti pakaian baru
secara lengkap, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dimasukkan ke dalam peti
yang terbuat dari jenis kayu tahan lama. Mayat dalam peti, diusung segenap
keluarga menuju pekuburan liang gunung batu yang telah disiapkan. Peti berisi
mayat di letakkan di atas gundukan batu dalam liang.
Pekuburan liang di pegunungan batu,
tersebar di sepanjang wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Setiap
lokasi dapat disaksikan peti-peti berisikan mayat atau tengkorak manusia
bergelimpangan. Pekuburan dimaksud itulah yang menjadi salah satu objek wisata
(yang mungkin) terunik di dunia yang tak henti-hentinya mendapat kunjungan
wisatawan nusantara dan manca negara. Selebihnya karena selain cuaca Tana
Toraja yang sejuk-dingin, juga karena pemandangan alam pegunungannya yang
indah, serta rumah tradisonalnya yang khas, pula karena kehidupan masyarakatnya
masih terasing, khas dan unik.
Jenazah-jenazah dalam peti yang telah
“dikubur”, diletakkan dalam liang gunung batu, oleh sebagian kecil masyarakat
suku Toraja --- khsusnya di kawasan Baruppu, Toraja Utara ---- meyakini bahwa
jenazah itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kerabat keluarganya yang
masih hidup. Itu sebabnya di kawasan ini, sebagian keluarga intens
memperhatikan jenazah kerabatnya, setidaknya setiap setahun sekali dibersihkan.
Ritual yang disebut “ma’nene” ini dilakukan dengan cara mengeluarkan
“mumi” mayat dari peti untuk dibersihkan. Pakaian lama yang digunakan sang
jenazah, digantikan dengan pakaian yang lebih baru.
Ritual ini terinspirasi dari kisah nenek
moyang mereka ratusan tahun lampau, Pong Romasek seorang pemburu binatang, saat
tengah berburu di hutan belantara, ia menemukan sesosok mayat tergeletak dan
mengenaskan. Pong Rumasek tergugah, ia membawa pulang mayat itu, lalu
membersihkan dan memberi pakaian bersih yang digunakannya. Sejak itu, setiap
kali berburu, selalu mendapat banyak binatang buruan. Bahkan selalu mendapat
buah segar yang berlebihan. Perkebunan dan persawahan milik masyarakat di
kampungnya, pun selalu menuai hasil panen yang melimpah ruah.
Sejak itulah Pong Rumasek menyadari
bahwa merawat orang yang telah meninggal dunia, tidak jauh lebih mulia dari
merawat kekerabatan dengan orang yang masih hidup. Paham Pong Rumasek secara
turun temurun sekian abad diyakini dan diterapkan masyarakat suku Toraja,
khususnya di Baruppu, Kabupaten Toraja Utara. Selain ritual pesta kematian,
ritual “ma’nene” ini, juga menjadi bagian objek wisata khas suku Toraja yang
tiada bandingannya dengan suku lain di muka bumi ini. Itu sebabnya, setiapkali
ritual “ma’nene” dilaksanakan tak pernah sepi kerumunan wisatawan, dalam dan
luar negeri, hadir menjadi saksi nyata.
Berikut jadwal acara massal ritual
“ma’nene” tahun 2014 di Tana Toraja:
Senin, 08 September, Ibadah Gereja Elim
Tonga, Membuka Liang Lahat, Bersih-bersih Kubur.
Selasa, 09 September, Acara keluarga
menganti kain kafan (Mangika’)
Rabu, 10 September, Pemindahan Jenazah
bagi keluarga tertentu(Ma’Palengka)
Kamis, 11 September, Pemindahan Jenazah
bagi keluarga tertentu(Mangika’)
Jumat, 12 September, Acara keluarga di
Rante, tempat upacara syukur untuk esok hari
Sabtu 13 September, Acara Ma’longko’ di
Rante/Dolmen, menutup liang lahat (peletakan karangan bunga), Ibadah Syukur dan
Ramah Tamah ditutup acara “Sisembak” (Adu betis bagi anak-anak).
Semoga bermanfaat, terima kasih ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar